<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8077695446037442131</id><updated>2012-02-16T03:56:15.635-08:00</updated><category term='Islam'/><category term='Majalah'/><category term='Film'/><category term='Buku'/><category term='Nasional'/><title type='text'>Aswan's Review</title><subtitle type='html'>komentar publikasi, buku &amp;amp; film menarik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://reviewaswan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reviewaswan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8077695446037442131.post-692264952768772795</id><published>2009-03-03T14:39:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T14:41:10.980-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Kursi Panas Demi Latika</title><content type='html'>APA yang mendorong seseorang untuk mengikuti kuis Who Wants To Be A Millionaire? Ingin terkenal. Mau menguji pengetahuan. Atau mengadu keberuntungan mendapatkan jutaan uang tunai. Alasan-alasan tadi mungkin benar. Tapi tidak untuk Jamal Malik (diperankan Dev Patel). Ia tampil di kuis itu hanya untuk seorang wanita: Latika (Freida Pinto). Ia yakin, Latika pasti menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Slumdog Millionaire mungkin boleh dibilang klise. Jamal, seorang anak miskin dari perkampungan kumuh di Mumbai (India), memenangkan hadiah utama kuis Who Wants To Be A Millionaire. Bukan karena cerdas. Jawaban dari setiap pertanyaan ia peroleh dari trauma demi trauma yang ia alami. Detail kejadian (sekaligus jawaban pertanyaan kuis) itu muncul kembali seperti mimpi buruk saat ia duduk di ‘kursi panas’ kuis itu. Kisah hidupnya yang sesekali berjalan mundur (flash back) membuat film ini mampu memberi ketegangan di setiap bagiannya. Tidak klise dan tidak mudah untuk ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tinggal selangkah lagi mendapat hadiah utama, Jamal diciduk polisi. Presenter kuis, Prem Kumar (Anil Kapoor) mencurigai Jamal berbuat curang. Polisi pun berpikiran yang sama. Berbagai penyiksaan ia jalani di kantor polisi. Alur flash back pun terjadi di sini. Jamal berkali-kali meyakinkan mereka. Untuk dapat menjawab kuis dengan benar, sebenarnya tidak dibutuhkan kecerdasan. Tapi keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari potongan kisah itu kita jadi tahu mengapa Jamal begitu mencintai Latika. “Aku akan menunggumu di stasiun kereta pukul lima sore. Setiap hari. Sampai engkau datang menemuiku.” Begitu janjinya pada Latika. Dari alur mundur itu, kita menjadi lebih mengenal Latika, Jamal, dan kakaknya Salam. Mereka menjadi yatim piatu setelah orangtua mereka yang muslim mati dibantai sekelompok orang. Rumah dan kampung mereka dibumihanguskan. Mereka hidup di jalan. Mencuri di atas kereta. Tidur di tumpukan sampah. Terlunta-lunta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slumdog Millionaire berhasil menampilkan India dengan problematika sosialnya. Ada land mark India: Taj Mahal. Sungai yang berubah menjadi selokan besar. Stasiun kereta api. Jalan raya yang sesak. Matahari yang terik. Malam yang kelam. Manusia yang berjejalan di kereta barang. Pedagang asongan. Peminta-minta dan pemulung. Perkampungan miskin yang sempit. Pelacur dan kompleks prostitusi. Mafia kelas atas hingga pencuri kelas teri juga dimunculkan. Cerita berseliweran di situ. Begitu apa adanya dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi dan sudut pengambilan gambarnya menawan. Gerak dan motif kameranya seolah seirama. Rangkaian gambar yang bertutur sepenggal-sepenggal membuat kita betah untuk terus menebak apa yang akan terjadi di akhir cerita. Ini yang menjadi ‘mesin’ film. Selain sebagai film terbaik, pantas pula bila film Slumdog Millionaire juga diganjar Oscar untuk penyutradaraan, editing, dan sinematografi terbaik tahun 2009. Total delapan piala Oscar yang diboyongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini sebenarnya diangkat dari sebuah novel yang ditulis Vikas Swarup: Q and A. Simon Beaufoy yang berhasil menerjemahkannya ke dalam screenplay (skenario) yang memikat. Potongan kisah sodomi dalam novel yang dialami anak-anak jalanan tidak diterjemahkan ke dalam film. Mungkin sisi kelam anak jalanan sudah cukup miris ditampilkan dengan adegan seorang anak yang diangkat bola matanya. Harga mereka tinggi bila cacat. Saat mereka meminta-minta, orang lebih iba. Juga agar mereka tidak berdaya untuk melepaskan diri dari mafia yang mengeksploitasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terbiasa menonton film India di televisi bersiaplah kecewa saat menonton film ini. Slumdog Millionaire tidak diinterupsi oleh tari atau nyanyian. Ia seperti film Hollywood yang dimainkan oleh aktor/aktris India dan (sekali lagi) dengan setting India. Kisah Jamal dalam Slumdog Millionaire mungkin serupa dengan atau mengingatkan kita pada Forrest Gump. Kebaikan, ketulusan, dan cinta kanak-kanak yang polos akan menemukan buahnya sendiri.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8077695446037442131-692264952768772795?l=reviewaswan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reviewaswan.blogspot.com/feeds/692264952768772795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8077695446037442131&amp;postID=692264952768772795' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/692264952768772795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/692264952768772795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reviewaswan.blogspot.com/2009/03/kursi-panas-demi-latika.html' title='Kursi Panas Demi Latika'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8077695446037442131.post-3597440577784010241</id><published>2008-08-06T23:11:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T23:20:17.143-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Majalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasional'/><title type='text'>Indonesia 1955</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SJqT5P0p09I/AAAAAAAAAB8/KoCQIm9Zpc8/s1600-h/NG_082008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231656528853455826" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SJqT5P0p09I/AAAAAAAAAB8/KoCQIm9Zpc8/s320/NG_082008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA wajah republik ini setelah sepuluh tahun merdeka? Siapa saja perusahaan asing yang menguasai ladang minyak Indonesia? Bagaimana jurnalis asing menggambarkan profil orang yang hidup di era ‘55? Artikel yang disajikan &lt;em&gt;National Geographic&lt;/em&gt; edisi Agustus 2008, kembali membawa kita pada suasana itu.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan ini tidak bermaksud mengulangi apa yang ada dalam artikel tersebut. Hanya ingin menggarisbawahi beberapa kesan yang —setidaknya menurut saya— menarik. Mulai dari foto hingga item-item informasi yang dimuat dalam artikel yang telah dipublikasikan pertama kali pada September 1955. Hemat saya, foto dan materi yang termuat dalam tulisan tersebut diambil setidaknya pada bulan Agustus. Tepat sepuluh tahun setelah Indonesia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto Soekarno yang menjadi cover. Saya belum pernah melihat gambar ini sebelumnya. Soekarno terlihat muda dan begitu flamboyan. Dengan gaya khasnya yang tidak —pernah mau— menatap ke arah kamera saat dipotret. Foto Hatta di halaman berikutnya. Dengan jas yang (maaf) kedodoran, tetap tersenyum menyalami beberapa orang penjemputnya saat tiba di Yogyakarta. Kala itu, ibukota negara dipindahkan dari Jakarta ke Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada potret suasana Stasiun Kota (Jakarta), Pasar Apung (Pontianak), atau keindahan puncak Gunung Kelimutu di Nusa Tenggara dengan danau tiga warnanya. Juga ada gambar anak-anak di Kalimantan yang sedang belajar di kelas dengan menggunakan batu tulis. Maklum, buku tulis termasuk barang langka dan mahal. Tidak ketinggalan pose ibu-ibu yang bekerja di pabrik kimia Bandung. Mereka terlihat sedang mengemas pil kina. Obat yang penting untuk melawan wabah malaria yang antara lain pernah membuat hampir separuh penduduk di timur Jawa, menggigil.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Berikut ini beberapa data yang menarik dalam artikel sepanjang 9 halaman di majalah tersebut:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penduduk Indonesia tahun 1955 banyaknya 79 juta jiwa. Mereka berbicara dengan 2.000 bahasa daerah. Oleh Beverley M. Bowie (wartawan &lt;em&gt;National Geographic &lt;/em&gt;yang menulis artikel tersebut), mereka digambarkan: “…sangat ramah, sangat sopan, sangat bersih —dan tidak terburu-buru…Jarang sekali mereka meninggikan nada bicara kecuali ketika tertawa dan tampak tidak pernah marah. Namun jika mereka benar-benar mengamuk, waspadalah!” &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ada tiga perusahaan asing yang menguasai pengolah minyak bumi di Indonesia: Bataafche Petroleoum Maatschappij (anak perusahaan Royal Dutch Shell), Standard-Vacuum (AS), dan Caltex Pacific (AS). Ketiganya mengontrol sumber minyak yang diperkirakan lebih dari satu miliar barel. Keuntungan yang diterima pemerintah Indonesia setiap tahun menjapai 60 juta dolar AS. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Hampir dua setengah juta penduduk menderita penyakit TBC dan 600 ribu mengalami buta yang disebabkan oleh &lt;em&gt;trachoma&lt;/em&gt;. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sejak merdeka, Indonesia berhasil memotong tingkat buta huruf dari sekitar 93 persen menjadi 45 persen. Sekolah dasar bertambah dari 18 ribu menjadi 32 ribu. Sekolah menengah dari 144 menjadi 2.700. Jumlah siswa juga meningkat menjadi lebih dari 8 juta dari awalnya hanya 2 juta. Standar penghasilan di Indonesia berkisar 50 dolar AS per kapita per tahun. Gaji sebulan seorang guru kala itu, tidak akan mencukupi untuk membeli sebuah ban mobil. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pendangkalan di Jakarta telah lama terjadi. Lumpur menumpuk hingga 2 km dari tepi daratan. Dengan penduduk lebih dari 2,5 juta, Jakarta masih memiliki suasana pedesaan yang mencolok.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Tentu artikel ini tidak dapat menggambarkan keadaan seluruh negeri. Namun setidaknya ia memberikan sketsa wajah tanah air setalah sepuluh tahun merdeka. Dirgahayu negeriku.***&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8077695446037442131-3597440577784010241?l=reviewaswan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reviewaswan.blogspot.com/feeds/3597440577784010241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8077695446037442131&amp;postID=3597440577784010241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/3597440577784010241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/3597440577784010241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reviewaswan.blogspot.com/2008/08/indonesia-1955.html' title='Indonesia 1955'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SJqT5P0p09I/AAAAAAAAAB8/KoCQIm9Zpc8/s72-c/NG_082008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8077695446037442131.post-6753366376273241248</id><published>2008-06-21T22:25:00.001-07:00</published><updated>2008-07-05T16:45:15.998-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Metafisika Wudhu</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;TIDAK sedikit orang yang beranggapan wudhu hanyalah ritual bersih-bersih sebelum shalat. Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Namun setalah membaca buku karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, barulah saya sadari bahwa wudhu memiliki dimensi metafisika. Bukan sekedar membersihkan bagian tubuh (yang kotor). &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karya-karya Imam Al-Ghazali banyak dan tersebar. Ada yang menyebutkan jumlah 98 karangan. Satu dari sekian karyanya yang terkenal adalah “&lt;em&gt;Ihya Ulumuddin&lt;/em&gt;” (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama). Buku “&lt;em&gt;Mutiara Ihya Ulumuddin&lt;/em&gt;” cetakan Mizan 2008 ini merupakan ringkasan dari berjilid-jilid kitab “&lt;em&gt;Ihya Ulumuddin&lt;/em&gt;” yang ditulis kembali oleh sang Imam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam buku ini, Al-Ghazali membahas segala topik tentang Islam dan pengamalan ibadah serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Satu di antaranya tentang Rahasia Bersuci. Rasulullah SAW bersabda: “Agama didirikan dengan dasar kebersihan.” Dalam kesempatan lain beliau juga bersabda: “Kunci shalat adalah kesucian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Imam mengelompokkan bersuci ke dalam empat tahap. Pertama, membersihkan jasmani dari hadas (kotoran). Kedua, membersihkan anggota badan dari kejahatan dan perbuatan dosa. Ketiga, membersihkan hati dari akhlak tercela. Terakhir, membersihkan batin dari selain Allah SWT. Inilah tingkatan bersuci para nabi dan siddiqin (seperti para wali kekasih Allah SWT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab Rahasia Bersuci, Al-Ghazali mengingatkan kembali akan adanya tujuan di balik wudhu yang lebih besar. Ini yang saya sebut sebagai Metafisika Wudhu. Tujuan ini yang dilafalkan dalam bentuk doa (yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW) setiap kali bagian-bagian tubuh dibasuh air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#1. Saat mencuci tangan: “Ya, Allah, aku mohon kepada-Mu kebahagiaan dan keberkahan. Aku berlindung kepada-Mu dari kemalangan dan kebinasaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#2. Berkumur: “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa membaca kitab-Mu dan memperbanyak zikir kepada-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#3a. Memasukkan air ke hidung dan menghirupnya tiga kali dengan satu cidukan: “Ya Allah karuniakan kepadaku bau surga dan Engkau ridha kepadaku.” #3b. Mengeluarkan air dari hidung: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu bau neraka dan dari (mendapat) tempat tinggal yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4. Membasuh wajah: “Ya Allah putihkanlah wajahku dgn nur-Mu pada hari wajah para wali-Mu menjadi putih, dan janganlah Engkau hitamkan wajahku dgn kegelapan-Mu pada hari wajah musuh-musuh-Mu menjadi hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#5a. Membasuh tangan sampai siku (kanan): “Ya Allah berikan kepadaku buku amalanku pada tangan kanan dan hisablah aku dgn penghisaban yg mudah.” #5b. Membasuh tangan sampai siku (kiri): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari Engkau memberikan buku amalanku pd tangan kiri atau dari belakang punggungku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#6. Membasuh kepala: “Ya Allah tolonglah aku dgn rahmat-Mu, turunkan padaku keberkatan-Mu, dan naungilah aku di bawah ‘arsy-Mu pd hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#7. Membasuh telinga: “Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik daripadanya. Ya Allah perdengarkan kepadaku suara penyeru surga bersama orang-orang yang baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#8. Mengusap leher: “Ya Allah bebaskanlah leherku dari api neraka (3X) dan aku berlindung kepada-Mu dari rantai dan belenggu.” &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SHAGyVBchZI/AAAAAAAAAB0/nNGbJ8YAqFA/s1600-h/Metafisika+Wudhu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219679429828838802" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SHAGyVBchZI/AAAAAAAAAB0/nNGbJ8YAqFA/s320/Metafisika+Wudhu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#9a. Mencuci kaki (kanan): “Ya Allah teguhkanlah kakiku di atas shirath pada hari kaki-kaki tergelincir ke dalam neraka.” #9b. Mencuci kaki (kiri): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari tergelincirnya kakiku dari shirath pada hari tergelincirnya kaki orang-orang munafik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali lahir pada tahun 450 H di Thus, Iran. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk belajar dan mengajarkan agama Islam di berbagai tempat. Awalnya ia berguru pada Imam Al-Haramain di Naysabur hingga ia diangkat menjadi wakil sang guru untuk membimbing murid-murid yang lain. Kemudian ia ke Bagdad, Irak. Dan tahun 39 tahun ia ke Damaskus, Syiria. Kemudian ke Bait Al-Maqdis di Palestina. Sampai akhirnya ia kembali bermukim di Thus (Iran) hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin 14 Jumadil Al-Akhir 505 H Imam Al-Ghazali wafat di tanah kelahirannya. Ibnu Al-Jauzi dalam bukunya “Al-Muntazhim” menuliskan bahwa menjelang wafatnya, ia diminta sebagian sahabatnya untuk berwasiat. Imam Al-Ghazali menjawab, “Hendaklah engkau ikhlas.” Senantiasa ia mengulanginya hingga meninggal dunia.*** &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8077695446037442131-6753366376273241248?l=reviewaswan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://reviewaswan.blogspot.com/feeds/6753366376273241248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8077695446037442131&amp;postID=6753366376273241248' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/6753366376273241248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8077695446037442131/posts/default/6753366376273241248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://reviewaswan.blogspot.com/2008/06/metafisika-wudhu.html' title='Metafisika Wudhu'/><author><name>M. Aswan Zanynu</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/TU-VjUrz8fI/AAAAAAAAAKk/CpSpGz4J694/s220/CloseUp%2BAttch.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_lq-cjVCGWR0/SHAGyVBchZI/AAAAAAAAAB0/nNGbJ8YAqFA/s72-c/Metafisika+Wudhu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
